Semeru – Mati Gaya di Kereta Matarmaja

Semeru Matarmaja Senen MalangSetelah sebelumnya menulis tentang persiapan berangkat ke Semeru, yaitu tentang drama tiket matarmaja, sekarang saya akan meneruskan cerita saat berada di kereta matarmaja, selama 17 jam perjalanan dari stasiun Senen sampai stasiun Malang, sendirian tanpa kawan, kekasih, apalagi Jodoh.

Baiklah, Sebenarnya sebelum naik kereta, saya sudah menebak-nebak, orang-orang yang satu bangku atau satu area tempat duduknya dengan saya bakal seperti apa. Sempat terbayang, jangan-jangan seperti waktu ke cirebon dahulu, satu area dengan ibu-ibu bersama dengan empat anaknya yang masih kecil-kecil. Aduh jika ini terjadi, kelar deh urusan. Kebayang bagaimana riwehnya ibu-ibu nenangin anaknya, yang berantem rebutan posisi duduk, rebutan makan minum, yang nangis, yang mau ini mau itu. Ya Alloh tolong hambamu yang dhoif ini, semoga kejadian itu tak terulang lagi, amin.

Jeng-jeng, alhamdulillah, ternyata saya bersebelahan atau satu area dengan rombongan bapak-bapak. Biarlah, dari pada-dari pada hehe…, Sebenarnya mengharap bertemu dengan rombongan pendaki juga atau traveler, enggak muluk-muluk sebelahan sama yang cakep-cakep, enggak deh, takut terbawa suasana. Paling tidak jika bertemu dengan traveler juga, bakal mudah untuk mencairkan suasananya, bakal enggak habis bahan untuk ngobrol ngalor ngidul, berbagi kisah pengalaman. Tapi ya sudahlah, yang penting doa saya dikabulkan.

Semeru-Kereta Senen-Cirebon

Jalur kereta Senen-Cirebon

Perjalanan dari Senen ke Cirebon saya sudah pernah merasakan, bagaimana mengisi waktu kurang lebih tiga jam, kapan harus beli makan atau bagaimana mengisi waktu sendiri. Seperti yang sudah-sudah, saya habiskan waktu sambil menikmati lagu favorite, memandang hamparan sawah dan pemukiman di sepanjang jalur kereta. Banyak inspirasi, ide dan juga kata-kata mutiara yang tercipta dari sana, sebagian terdokumentasikan sebagian menguap seperti kenangan.

Saya tak mengobrol sama sekali dengan bapak-bapak sebelah dan depan saya, hanya say hello saat pertama bertemu saja. Hanya sibuk dengan aktivitas mata, telinga dan fikiran yang terasa nikmat dihayati.

Tak terasa sudah sampai cirebon. Disini saya turun untuk membeli makan malam, sengaja meminta dibungkus karena jika maksa atau nekat makan di tempat, bisa-bisa ditinggal kereta yang hanya 10-15 menit berhenti. kecuali jika sanggup makan satu piring sekali leb…

Semeru-Kereta Cirebon-Semarang

Jalur Kereta Cirebon-Semarang

Kereta meluncur ke arah timur, susuri rel baja yang sejalur dengan semarang. Hari sudah gelap, tak lagi bisa memanjakan mata seperti sebelumnya. Mulailah ikut terlibat obrolan dengan bapak-bapak, dari mulai tanya tujuan, terus balik ditanya mau kemana. Ternyata tema pembicaraan mereka beralih ke saya, banyak bertanya-tanya tentang saya yang mau naik gunung, dari rasa heran, mungkinn dikira kurang kerjaan, menyusahkan diri sendiri dan lain-lain.

Ternyata asik juga berbincang dengan orang tua yang kalau dilihat sama kakek atau nenek masih bisa dipandang muda lah. hampir dua jam habis untuk berbincang dengan mereka. Tak terasa memang, bahkan makanan yang saya belipun luput dari perhatian.

Singkat cerita, kereta sampai juga di semarang, hampir semua penumpang keluar berhamburan, apalagi mereka para perokok sejati, mungkin naik kereta sekarang oleh mereka seperti uji mental, sabar, menanti-nanti kereta berhenti dan saat merokok di peron pun mesti cepat-cepat menghisap, atau yang tak sempat habis mereka matikan untuk nanti di stasiun selanjutnya mereka nikmati kembali, untung saya bukan perokok, calon idaman bukan? hehe…

Di peron stasiun Semarang inilah saya habiskan makanan yang saya pesan di stasiun cirebon, ternyata kereta berhenti lama, sesuai yang diberitahukan bapak-bapak sebelah saya, kurang lebih setengah jam kereta berhenti. Terlihat mereka para perokok bahagia sekali, bisa menghisap rokoknya dengan santai, menikmati setiap hela asap yang mereka hisap namun enggan menelanya hehe…

Semeru-Kereta Semarang-Solo

Jalur Kereta Semarang-Solo

Kereta meluncur kembali ke arah selatan, menyusuri jalur baja di bawahnya. Entah mengapa, bapak-bapak kompak sekali, setelah kereta berangkat, langsung memejamkan mata, seakan mereka sedang marahan, tanpa kata tanpa sapa, saya pun dibuat bingung, mengobrol sudah tak bisa, mengantuk juga tidak, jujur saja, saya mulai mati gaya.

Satu jam berlalu, saya masih enggak jelas mau melakukan apa, pemandangan tak ada, gelap gulita tanpa cahaya, mengintip pun takan dapat apa-apa, justru khawatir takut diintip balik oleh mereka penunggu rel kereta, amit-amit deh jika terjadi. Memandang ke depan pun tak ada gunanya juga, pemandangan macam apa coba, bapak-bapak, sudah menua pula, tidur menganga, Ya Alloh saya rindu pemandangan sunrise mu…

Akhirnya saya putuskan untuk jalan-jalan susuri gerbong, berlagak seakan seperti petugas kereta yang mau mengecek penumpang atau seperti petugas penjual makanan serta bantal tidur seperti biasa.

Sepanjang empat gerbong sudah saya susuri, ternyata banyak juga pendaki yang menggunakan kereta ini, tapi jika dipikir, wajarlah, secara matarmaja adalah kereta sejuta pendaki, jalur yang di lalui memang sesuai dengan tujuan banyak pendaki, dari mulai Ciremai turun di cirebon, Andong dan Ungaran bisa turun di semarang, Merapi-merbabu bisa turun di semarang atau di solo berbarengan dengan mereka yang mau ke Lawu. Nah, banyak kan, itu masih belum habis, makin ke timur makin banyak peminat gunungnya, sebut saja Bromo-Semeru, Arjuno-Welirang, atau mereka yang mau ke Argopuro atau Raung juga banyak yang naik kereta ini, tentunya mereka nanti melanjutkan lagi dengan transportasi lain.

Akhirnya petualangan susur gerbong saya terhenti di gerbong makan alias kantin kereta. Pucuk dicinta dia pun tiba, makan sudah, paling pas ya ngopi. Tak pikir panjang lagi, segelas kopi hitam saya pesan. Cukup lama saya di sini, hampir satu jam menikmati kopi yang sengaja saya irit-irit dari tadi. Bukan agar tak diusir tapi memang kebiasaan saya minum kopi sedikit demi sedikit, menikmati setiap kecap rasa yang menempel di lidah, merasakan sensasi pahit yang bercampur aroma wangi kopi, oh nikmatnya, nikmat mana lagi yang kau dustakan hai manusia.

Setelah habis, saya beranjak kembali ke kursi dudukku. Seperti saat saya tinggal sebelumnya, bapak-bapak masih terlelap tidur dengan asyiknya. Entah mereka bermimpi apa, tidur sambil duduk tegap namun bisa lelap. Melihatnya saya iri.

Waktu berlalu, entah berapa jam, dan saya hanya merem-merem berusaha untuk tertidur, sekian lama usaha itu membuahkan hasil, namun tak lama kereta terhenti di sebuah stasiun, setelah saya intip, ternyata ini stasiun solo. Alhamdulillah sudah sampai solo. Satu provinsi lagi, jawa timur. Jarak masih jauh kawan, malam sudah larut, mata masih melek, kawan mengobrol tak ada, jadilah saya makin mati gaya.

Semeru-Kereta Solo-Kediri

Jalur Kereta Solo-Kediri

Perjalanan solo sampai kediri saya habiskan dengan drama tidur-tidur ayam, tidur kebangun, tidur bangun. Lama-lama lelah, kaki pegal minta ampun, ingin rasanya tidur di lantai, terlentang, merebahkan badan. Tapi itu hanya keinginan yang tak sampai.

Selepas dari kediri saya berhasil  tidur dengan nyenyak, ternyata sudah diambang batas lelah dan tak tau harus berbuat apa. Masih ingat waktu itu, saya terbangun oleh alarm handphone yang disetel tak jauh setelah waktu subuh.

Setelah shalat subuh, tak lama sunrise muncul, Pas banget, matahari terbit di atas pematang sawah yang menghijau, indah sekali pagi ini. Setelah setres semalaman, akhirnya dapat hiburan menyenangkan. Matapun tak lagi terpejam hingga kereta terhenti di stasiun akhir, Malang.

Semeru-Kereta Kediri-Malang

Jalur Kereta Kediri-Malang

Sesuai prediksi jadwal kereta, Matarmaja sampai di stasiun malang pukul 08:00, sebenrnya telat setengah jam, tapi tidak masalah.

Sekarang yang saya fikirkan, saya mesti kemana? ini pertama kalinya saya ke malang, seorang diri, tak tahu arah tak tahu jalan. Yang saya tahu, saya harus pergi ke patung Singa tempat janjian kumpul dengan rombongan trip ke semeru.

Tak terasa pula saya mengetik sudah tembus seribu kata, hanya untuk bercerita tak jelas di dalam kereta, mood sedang bagus untuk mengetik sepertinya, lumayan untuk melatih membiasakan diri mengetik. Semoga bisa menjadi kebiasaan setiap hari, amin.

Sebenarnya cerita masih panjang, perjalanan ke Tumpang naik angkot sewaan, terus naik jeep ke ranu pani, melakukan pendakian malam sampai ranu kumbolo, mendirikan tenda sendiri di tengah rintik hujan, tengah malam pula, tidur di tenda sendirian. Masih panjang ceritanya, tapi saya cukupkan dahulu sampai sini, next saya tuliskan kembali ceritanya, selamat membaca. Maaf jika tak ada gunanya.

Stasiun Malang

Penampakan Bangunan Stasiun Malang

 

Iklan

Hari Pers Nasional dan Kisah Heroik di Belakangnya

PWI

Kala itu, disebuah balai pertemuan Sono Suko di Surakarta (Solo). Terkumpulah toko-tokoh wartawan-wartawan diantaranya para pemimpin surat kabar. Sebut saja, Harian Rakyat Jakarta, Harian Merdeka, Antara, Suara Rakyat, Suara Merdeka, Penghela Rakyat, Surat Kabar Berjuang, Surat Kabar Kedaulatan Rakyat. Tak hanya para wartawan, para pejuang pun ikut berkumpul disana. Hal ini dapat dimaklumi karena pada waktu itu pers adalah termasuk ujung tombak perjuangan kemerdekaan Indonesia,unnamed1541085220.jpg khususnya dalam menginformasikan dan menyuarakan perjuangan kemerdekaan Indonesia ke seluruh pelosok Nusantara dan juga dunia.

Balai pertemuan Sono Suko menjadi tempat bersejarah bagi insan Pers di Indonesia. Bagaimana tidak, ditempat itulah pertemuan besar yang akan menjadi cikal bakal berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Momment itu bertepatan dengan tanggal 09 Februari 1946.

PWI Pusat

Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Berada di Jl. Veteran

Dipertemuan itu, disepakati berdirinya sebuah organisasi wartawan Indonesia, yang kemudian diberi nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), kemudian terpilihlah Mr. Sumanang Surjowinoto sebagai pemimpinya dan Sudarjo Tjokrosisworo sebagai Sekeretarisnya.

Selain itu, disepakatinya berdiri sebuah komisi yang beranggotakan 10 Orang, yaitu:

  1. Sjamsudin Sultan Makmur (Jakarta)
  2. B. M. Diah (Jakarta)
  3. Abdul Rachmat Nasution (Jakarta)
  4. Ronggodanukusumo (Mojokerto)
  5. Muhammad Kurdie (Tasikmalaya)
  6. Bambang Suprapto (Magelang)
  7. Sudjono (Malang)
  8. Suprijo Djojosupadmo (Yogyakarta)

Kemudian ditambah 2 orang lagi yaitu ketua dan sekretaris PWI terpilih. Kemudian Komisi yang beranggotakan 10 orang tersebut diberi nama komisi Usaha.

Tugas utama komisi usaha adalah mengkoordinasikan seluruh pers nasional untuk bergerak dalam satu barisan, yaitu dengan tujuan:

  • Menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Belanda
  • Mengobarkan nyala revolusi
  • Mengobori semangat perlawanan seluruh rakyat Indonesia terhadap bahaya penjajah
  • Menempa persatuan nasional

Kesemuanya untuk keabadian kemerdekaan bangsa dan penegakan kedaulatan rakyat.

Kemudian pada tahun 1978, dalam kongres PWI ke-28 di Kota Padang, Sumatera Barat. Kongres memutuskan untuk menetapkan adanya Hari Pers Nasional (HPN), penetapan ini selaras dengan kehendak masyarakat pers untuk menetapkan satu hari bersejarah, untuk memperingati peran dan keberadaan pers secara nasional.

Logo Dewan Pers

Pada sidang Dewan Pers yang ke-21, tanggal 19 Februari 1981 di Bandung, kehendak tersebut yang menjadi keputusan kongres PWI ke 28 disetujui oleh Dewan Pers, untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah sekaligus menetapkan penyelenggaraan Hari Pers Nasional.

Dari sekian panjang peristiwa tersebut, akhirnya pada tanggal 23 Januari 1985, Presiden Soeharto mengeluarkan keputusan untuk menetapkan Hari Pers Nasional (HPN), HPN ditetapkan pada tanggal 9 Februari. Keputusan tersebut tertuang pada KEPRES no. 05 tahun 1985.

Berdasarkan sejarah yang saya ulas diatas, praktis bangsa Indonesia sejak tahun 1985 telah merayakan HPN setiap tahunya, hingga hari ini 09 Februari 2018. Peristiwa perayaan tahunan HPN ini telah berlangsung selama 33 tahun, dan tulisan ini saya dedikasikan untuk ikut berkontribusi pada perayaan HPN ini.

Sengaja saja mengawali tulisan ini dengan mengungkap sedikit sejarah yang melatar belakangi HPN ini, semua itu agar kita yang mengetahui bahwa hari ini adalah hari pers, tidak hanya tahu saja, tetapi bisa sedikit meresapi kejadian dan semangat yang dahulu menggelora pada dada insan pers Indonesia.

Dalam menulis tulisan ini, saya teringat dengan kisah serorang pejuang pers, dia adalah Jusuf Ranadipuro. Jusuf dahulu bekerja disebuah radio militer milik Jepang di jakarta, yaitu radio Hoso Kyoku. Dari dialah, berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tersiar keseluruh Indonesia dan Dunia.

Jusuf

Foto Jusuf Ranadipuro

Cerita itu berawal pada sore hari, beberapa jam setelah Presiden Soekarno membacakan text proklamasi. Tepatnya pada jam 5 sore, datanglah syahrudin (wartawan domei) membawa pesan dar Adam Malik yang berbunyi “Harap berita terlampir disiarkan”. Bisa kita tebak, bahwa lampiranya adalah naskah proklamasi.

Singkat cerita, dengan strategi yang sudah disusun bersama rekan kerjanya, salah satunya yaitu Bachtiar lubis (kakak kandung Mochtar Lubis), pada pukul 19:00, Jusuf mengudara dari ruang siaran luar negeri, membacakan Teks Proklamasi seperti yang dibacakan oleh Presiden Soekarno. Dalam secepat gelombang radio, merampat susuri kontur-kontur bumi, terdengarlah berita kemerdekaan Indonesia oleh rakyat Indonesia disegala penjuru Nusantara. Tak hanya itu, bahkan dari siaran Jusuf inilah dunia tahu bahwa Indonesia telah merdeka.

Yang namanya perjuangan pasti tak mudah, mesti ada yang harus dikorbankan. 15 menit setelah mengudara, aksi Jusuf ketahuan tentara Jepang yang berjaga. Dipukuli lah para pejuang pers tersebut, bahkan Jusuf hampir kehilangan kepalanya yang hampir saja ditebas samurai. Puji Syukur, Jusuf selamat, mesti harus pulang dengan cacat di kakinya.

Singkat cerita, keesokan harinya berobatlah Jusuf ke Salemba, disana ia bertemu dengan dokter Abdurahman Saleh. Dari pertemuan itulah cikal bakal Radio Republik Indonesia berdiri (RRI). Untuk lebih jelasnya silahkan baca kisah berdirinya RRI, googling saja, insyaalloh banyak referensinya.

Jujur saja, menulis kisah peritiwa diatas membuat bulu kuduk di punggung saya berdiri, berkali-kali. Seakan bergetar merasakan begitu heroiknya para pejuang pers dahulu dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saya kira, adalah tak ada artinya tulisan saya ini jika didedikasikan untuk perayaan HPN hari ini. Tapi, saya yang kecil ini, dan memang benar-benar kecil, yaitu badanya hehe… Berharap dari yang kecil ini, dari tulisan ini, bisa meneruskan sedikit semangat perjuangan kala itu, hingga pada suatu rongga, di dada seorang manusia, semangat kecil ini meletupkan Gelora Semangat yang besar, yang bisa membuat bangsa ini lebih baik. Entah itu dari insan pers itu sendiri maupun yang bukan insan pers, amiin.

Dewan Pers

Gedung Dewan Pers di Jl. Kebon Sirih

Sekian kiranya tulisan ini saya tulis. Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers di Indonesia menjadi lebih baik lagi, tak menyimpang dari visi dan semangat para pendahulu mereka, berjuang demi negara bukan demi mereka. Berjuang demi kebenarin bukan membenarkan kebatilan, Amiin ya robbal’alamin.