Penggila Mahameru

 

 

Tengah malam
Saat pergantian hari
Dingin itu berebut merasuk ke tubuhku
Seakan berlomba menguasaiku
Aku menggigil di tengah gelap
Di tengah padang rumput kalimati
Saat itu…
Langit terlihat lebih terang
Dari pada dunia yang ku pijak
Mengerlip gemintang hiasi mahameru di bawahnya
Yang gagah tegak tepat di hadapanku
Aku terkesiap
Benarkah malam ini aku kan mendakinya?
Jantungku berdegup lebih kencang
Berlomba dengan nafas gigilku kala itu

Seketika siaplah semua
Berkumpulah manusia-manusia dimabuk cinta
Pada mahameru puncaknya Semeru
Jika bukan cinta
Tuk apa mereka menggila disini
Susahkan diri yang bisa jadi hidup mereka diakhiri malam ini
Ah itu fikirku saja
Tapi yang pasti
Mereka punya alasan kuat sendiri

Benar saja
Cinta itu diuji
Penjaga pos tak ridhoi kami pergi
Penuhi janji cinta pada mahameru malam ini

Setelah bergumul kata dalam kebekuan raga
Riuhan manusia yang tengah diuji
Dalam kebimbangan dan keraguan
Melawan atau kalah dalam larangan
Singkat kata
Setengahnya mundur ke balik tenda
Setengahnya tak bergeming meski blacklist ancamanya

Satu jam yang penuh gumul
Antara gigil dan hembus nafas
Antara takut dan tetap teguh
Antara bimbang dan keyakinan
Antara ancaman dan keberanian
Mereka yang memenangkan dirinya
Seketika disatukan bersama
Dalam satu tujuan
Mahameru…

Nasa Kalimati Mahameru Semeru3

View Mahameru dari Kalimati

Langkah dimulai
Barisan manusia bebal memanjang
Dari cahaya headlamp terlihat bak mengular
Gambarkan jalan ini masih terjal dan panjang

Headlampku mati
Aku disergap gelap
Langkahku terhenti
Di bawah remang rembulan
Perlahan kakiku merayap
Di tengah gelap kawan pendaki menghampiri
Mau berbagi cahaya pada yang lemah ini
Syukurku
Paling tidak aku masih bisa maju
Meski dalam gontai dan lambatnya langkahku

Medan sebenarnya sudah dimulai
Kakiku menghujam ke dalam pasir hitam
Menggelayutiku
Menyeretku
Seakan cemburu padaku
Yang memilih mahameru
Dari pada dirimu
Tak rela aku mencapai
Tak sudi aku memuncaki
Mahameru…

Rombongan tercerai berai
Seakan masing-masing sibuk dengan dirinya
Bergulat di tengah lelah
Tertekan dalam mental yang goncang
Kuatkah?
Jika setiap melangkah
Selalu terseret turun kebawah
Sampai kapan?
Jalan tak usai
Tenaga lunglai
Aku terhuyung
Seakan semeru menggeliat
Aku terduduk dalam tunduk
Pandangi pasir yang samar dalam gelap
Sampai sini sajakah?
Berkali-kali suara itu berbisik…
Pandanganku melayang jauh
Pada hamparan Tengger Semeru yang samar-samar
Sudah sejauh ini
Haruskah terhenti?
Suara lain berbisik…
Pada hati yang tengah mengharap
Semoga raga ini kuat

Nasa Sunrise Mahameru Semeru

Sunrise 17 Agustus 2016 di Mahameru

Tiba-tiba
Langit dan bumi terpisah
Yang sebelumnya disatukan hitamnya malam
Sekarang merah memisahkan keduanya
Tak menunggu lama
Seketika cahaya terang menyembur dari baliknya
Oh sunrise pujaan
Telah muncul kamu sekarang
Maaf aku masih terduduk di jalur pendakian
Tak sambut dirimu di atas mahameru
Sang gagah tertinggi di tanah Jawi

Dalam pancaran surya
Yang lembut menghangat
Kuatkan raga dan kuatkan semangat
Seketika aku berdiri
Memulai langkah yang lama terhenti
Puncak jelas terlihat
Tak jauh lagi rupanya
Oh hati
Sabarlah menanti
Ragakan penuhi janji
Senangkanmu pada mahameru di atas nanti
Janji itu kan tertepati
Hari ini, bukan hari nanti

Nasa Mahameru Puncak Semeru

Hamparan Bromo Tengger Semeru

Tak butuh lama aku injakan kaki
Di tanah tertinggi jawa hari ini
Haru mengharu
Senang menyenangi
Bahagia yang membahagiakan
Angan menjelma jadi kenangan
Yang takkan lupa meski waktu tak senang
Inikah mahameru
Tanah datar di puncak semeru
Tempat para dewa katanya

Dalam bahagia yang tak terucap
Dalam pukau indahnya pandang
Hati itu berbisik dalam riangnya
Subuh terlewat…
Seketika ku jelma tanah dewa jadi tempat khidmat
Pada Tuhan sang pemberi nikmat
Sepetak tanah mahameru jadi sajadah
Tempat bersujud dalam syukur nikmat
Entah berapa rapal doa dan bait puji ku ucap
Yang takdirkanku hari ini
Berdiri di tempat yang tinggi ini
Oh Robbul izzati
Maaf jika aku kufur nikmat
Aku tak pandai bersyukur
Aku tak pandai memuji
Aku tak ahli mengibadahi
Maaf…
Dosa tak henti ku buat
Sedang nikmatmu tak henti ku kecap
Aku bermunajat
Maafkan aku… Tuhanku

Jakarta, Maret 2018
Dalam kenangan Semeru 17 Agustus 2016

Berikut kisah perjalananya tentang Semeru waktu itu:

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

Manusia Mencinta

Dahulu saya tahu artinya kalimat ini
“Cintailah manusia karena Alloh”
Itu saja…

Tapi waktu berjalan
Hikmah itu terasa…
Amat sangat…

Betapa banyak orang binasa karena cinta pada manusia
Betapa banyak orang jatuh tersungkur, kacau hidupnya karena cinta pada manusia
Mereka lupa, mencintai manusia tak boleh dibebaskan sebebas-bebasnya rasa mengembara

Bolehlah cinta berirama
Bolehlah cinta bercengkrama
Bolehlah cinta mengembara
Tapi batasi ia dengan cinta Ilahi

Jika cinta telah berada tepat di tepi batas Ilahi
Tariklah ia ketengah kembali
Jika kamu biarkan ia melangkahi batas Ilahi
Jangan salahkan Tuhanmu jika kamu dirundung pilu

Kamu pergi terlalu jauh dari batas itu
Kamu sendiri yang mesti kembali sekuat hati
Bukan hanya terduduk merana disana
Menikmati senja demi senja dengan air mata

Semakin lama kamu suka
Semakin waktu berlalu kamu mencinta duka
Kamu ditipu duka lara berkali-kali
Ia tak ingin kamu kembali

Sukakah kamu hidup menduka bersama lara
Jika iya, aku kecewa…
Begitupun tuhanmu yang kamu tinggal jauh disana
Jika tidak, bergegaslah
Sebelum lara menguat menggelayutimu hingga kamu lumpuh
Sebelum lara melumpur menenggelamkanmu kebawah rasa hancur

Bergegaslah kembali
Batas itu takan pernah pergi
Tuhanmu menanti

Ia bisa saja menarikmu seketika kembali
Tapi…
Ia hanya ingin kamu kembali karena Ilahi
Karena jikapun kamu kembali kebatas Ilahi
Sedang kamu masih meratapi
Itu tudak ada arti

Kosong…
Jasad dan hatimu terpisah
Jasadmu di dalam batas Ilahi
Sedang hatimu berlari-lari dengan lara-lara ilusi.

Sadarlah
Tuhanmu tidak pernah salah.

Nun-Jakarta, 24 Feb ’18