Semeru – Hiruk Pikuk Menuju Ranupani

Nasa Jeep Tumpang Semeru

No Caption 🙂

Setelah sekian drama ketidak jelasan berlalu, dari masalah tiket Matarmaja sampai mati gaya di kereta matarmaja. Kesemuanya sekarang hanya menjadi kenangan konyol yang jika dipikir enggak penting dikenang.

Setelah keluar stasiun malang, saya tak pikir panjang langsung bertanya pada seseorang setengah baya, yang jika dilihat dari wajah dan cara berbicaranya sepertinya dia orang malang atau jika bukan pasti orang jawa timur, dari informasi yang disampaikan cocok dengan info yang di dapat dari grup trip, patung 3 singa ada di pinggir taman trunojoyo seberang stasiun malang.

Setelah menemukan patung 3 singa yang dicari, terlihat beberapa orang yang sudah berada disana. Tak perlu berpikir menguras otak untuk mengindentifikasi siapa mereka, dari penampilan dan tas besar yang mereka bawa sudah tentu mereka pendaki, saya yakin mereka adalah rombongan trip ke semeru yang saya ikuti.

Langsung meluncur merapat ke mereka, sambil menebar senyum, mengucap salam saya membaur bersama mereka. Setelah sekian lama ternyata orang yang merapat semakin banyak, ternyata ini bisa dibilang rombongan besar jika dilihat banyaknya peserta trip pendakian pada biasanya. Total berjumlah 45 orang, banyak bukan untuk ukuran rombongan pendakian, dan dari kesemuanya tak ada yang saya kenal, mau tidak mau saya menjadi orang yang sok kenal alias SKSD.

Panitia trip memberikan waktu satu jam untuk kita prepare, mempersiapkan apa-apa yang kurang, karena setelah ini rombongan akan langsung meluncur ke tumpang.

rute Stasiun malang pasar klojen

Rute jalan kaki dari stasiun malang menuju pasar Klojen

Seketika saya meluncur bersama beberapa orang, untuk mencari barang-barang yang saya perlukan, satu hal yang ada di pikiran saya, spirtus. Saya belum punya spirtus, lupa membeli di jakarta, padahal kompor yang saya bawa adalah trangia yang bahan bakarnya spirtus, bisa fatal jika saya tak mendapatkanya disini. Takan berguna trangia itu saya bawa, hanya akan menjadi beban saja.

Setelah mencari ke alfamart dan indomart ternyata tidak ada, saya langsung terpikirkan toko material, dan benar saja saya menemukanya disana toko material dekat pasar klojen. Setelah berbelanja saya sempatkan untuk sarapan bubur di pasar klojen.

Rombongan Semeru Patung Singa.jpg

Tim Pendakian Semeru, Kawan Baru, Sodara baru, Keluarga Baru

Setelah semua persiapan beres, saya merapat kembali ke patung singa. Rombongan sudah bersiap-siap untuk berangkat, tak lupa sebelum meluncur ke tumpang menggunakan angkot sewaan, kita berfoto bersama dengan latar belakang patung 3 singa, salah satu tempat sakral untuk arek malang atau arema.

Seperti rombongan seserahan lamaran, angkot sewaan yang membawa rombongan meluncur beriringan susuri jalanan kota malang menuju tumpang, tepatnya rumah rakyat tumpang. Tak membutuhkan waktu lama, sekitaran 30 menit rombongan meluncur ke titik penjemputan mobil jeep yang akan mengantar ke basecamp pendakian semeru, ranupani.

Sesampainya di rumah rakyat tumpang, saya langsung bergegas mengemasi keril ke mobil jeep untuk disusun bersama dengan keril-keril yang lainya.

Sambil menunggu persiapan packing keril-keril ke mobil jeep, saya menyempatkan diri untuk menikmati es kelapa muda yang ada  seberang jalan. Nikmat sekali, saya yakin akan kangen dengan rasa ini esok.

Setelah packing di mobil jeep selesai, kami sempatkan untuk foto bersama, bergaya di atas mobil jeep. Berasa level kegantengan meningkat drastis. Saya segera cukupkan takut levelnya meningkat tajam tak terelakan. bisa kacau nanti dunia persilatan.

Rombongan jeep langsung meluncur ke arah timur, sedikit-demi sedikit jalanan mulai menanjak, setelah 20 menit lamanya jeep melaju, kami berhenti di rumah pemilik jeep untuk dijamu makan siang, sekaligus membuat surat keterangan sehat dari dokter. Alhamdulillah, ternyata entah itu oleh panitiia trip atau memang di inisiatif pemilik jeepnya, ternyata di rumahnya sudah ada petugas kesehatan yang menunggu, maka kamipun bergantian makan dan memeriksakan diri ke petugas kesehatan tersebut.

Tumpang Ranupani.JPG

Rute dari Tumpang menuju Ranupani

Cukup lama saya dan rombongan singgah di rumah pemilik jeep, sekitar 2 sampai 3 jam disana. Rumah pemilik jeep ini jika dilihat sudah seperti tempat persinggahan pendaki, strategis sekali karena satu jalur dengan arah menuju basecamp pendakian gunung semeru, ranupani.

Setelah urusan perut selesai, surat sehat sudah ditangan, rombongan meluncur melanjutkan perjalanan ke ranupani. semakin lama jalanan semakin menanjak dan berkelok, udara semakin sejuk, lahan pertanian terlihat indah, berbukit dan berundak. Aroma gunung dan sensasi kesegaran sudah cukup membuat hati tak sabar untuk segera memulai pendakian.

Seketika saya dikagetkan dengan riuhnya teman-teman di mobil jeep, ternyata mereka bersorak gembira melihat savana gunung bromo yang terlihat sangat indah di sebelah kiri, sayang sekali mobil jeep tak berhenti, hanya menurunkan kecepatan saja, maka kamipun sebisanya mengabadikan moment tersebut dan menikmatinya secepat menikmati bayangan dia, yang mengkelebat dibalik masa lalu dan khayalan masa depan, maaf melantur.

Setelah menanjak sekitar satu jam susuri jalanan beraspal dan beberapa berlubang serta berbatu, akhirnya sampai di desa ranu pani, ternyata sebelum masuk menuju basecamp pendakian gunung semeru, ada portal desa yang memungut retribusi untuk desa, tak besar hanya 2000 per orang, saya pikir sah-sah saja jika memang untuk keperluan pembangunan desa, toh yang mereka minta tak berlebihan.

Ternyata, mobil jeep tak bisa mengantar kami sampai basecamp, karena ada kerusakan jalan yang tak dapat dilalui, untungnya tak jauh, kami hanya perlu susuri pinggir danau pani (ranu pani).

Saya dan rombongan mendarat di basecamp pendakian gunung semeru tak lama setelah waktu asar tiba, saya packing ulang keril saya, karena waktu start pendakian masih lumayan lama sepertinya, selain sedang diurus administrasi juga karena menunggu giliran brifing oleh petugas (saver). Peraturanya, semua pendaki wajib mengikuti brifing, tak boleh di wakilkan, semua harus ikut mendengarkan arahan dan ketentuan-ketentuanya.

Brifing oleh petugas saver - ranupani semeru.jpg

Intinya, brifing berisi tentang kondisi gunung semeru terkini, hal-hal yang perlu diperhatikan, khususnya menegaskan bahwa pendakian hanya boleh dilakukan sampai kalimati saja, jika ada yang memaksa untuk mendaki puncak semeru, itu diluar tanggung jawab mereka, resiko ditanggung sendiri oleh pendaki. Jelas sekali arahan itu, tapi apapun yang terjadi, saya tetap bismillah, saya niat mendaki semeru sampai puncak, semoga lancar tanpa halangan, amin.

Jangan lupa baca puisi perjalanan summit Mahameru.

Setelah sejam lebih rombongan tertahan, akhirnya saya dan yang lainya bisa memulai pendakian. Saat mulai melangkah melewati gapura selamat datang di gunung semeru, saya sempatkan melihat jam, ternyata sudah jam 5 sore, ini akan menjadi pendakian malam hari gumamku.

Perjalanan ini masih panjang, masih ada hari-hari kedepan yang mesti dilewati, dari sunrise ke sunset, dari rembulan ke matahari, malam dan siang. waktu-waktu yang berjalan, yang mesti dilewati suka tak suka. Dan selanjutnya, waktu itu berada di jalur semeru. Semua baru akan dimulai. To be continue…

Gapura selamat datang Gunung Semeru.jpg

Mumpung muka belum pucet pasi, kita mejeng di gapura selamat datang Gunung Semeru

 

Iklan

Semeru – Drama Tiket Matarmaja

Apa yang saya tulis ini adalah pengalaman seru, yang bisa dibilang tak terlupakan. Buat seukuran tipikal orang introvert, melakukan perjalanan jauh sendiri, atau dengan orang-orang yang tak dikenal sama sekali adalah tantangan tersendiri. Tapi begitulah yang terjadi, saya melakukanya lagi, seperti sebelumnya jalan-jalan jelajah keraton di cirebon dan ke Jogja, camp di gunung api purba seorang diri.

Namun saat ini, saya pergi ke semeru tak sendiri. Gila kali saya dikira nanti. Iya, kali ini saya ke semeru tak sendiri tapi bergabung dengan rombongan trip orang malang, hanya tahu dari Facebook. Ada info pendakian semeru, meeting point di stasiun Malang. Tahu nggak apa yang membuat saya tergiur? Biaya tripnya yang murah, jika perbedaan biayanya jauh dengan yang lain, bahkam hampir setengahnya, siapa yang tidak tertarik bukan.

Kala itu, bulan Juni 2016 saya mendaftar ke Trip Semeru di malang, rencananya akan melakukan pendakian ke gunung tertinggi di jawa itu bertepatan dengan hari kemerdekaan, yaitu 17 Agustus 2016. Entah bagaimana waktu itu, saya mendaftar hanya sendiri, tanpa mengajak teman untuk ikut mendaki, dengan modal penasaran mendaki semeru mungkin dirasa cukup untuk uji nyali. Jujur saja, waktu itu tak banyak hal yang dikhawatirkan meski akan berangkat sendiri ke malang, disana tidak ada yan dikenal, bukan sehari dua hari, tapi enam hari saya akan pergi. Bismillah saja pikirku waktu itu, secara anak laki, masa enggak berani hehe…

Tepat sebulan sebelum pendakian, saya membeli tiket kereta matarmaja dengan tujuan stasiun malang. Tapi karena masih bimbang rencana pulangnya, akhirnya hanya memesan tiket untuk keberangkatan. Dua minggu sebelum berangkat, was-was mulai menjangkiti, tiket kereta pulang di tanggal yang direncanakan pulang sudah habis. Alamak, nasibmu ini nak, kewalat menunda-nunda membeli tiket pulang.

Sejak saat itu, hampir setiap hari membuka aplikasi kereta api sebut saja namanya KAI Acces (Promo dikit), berharap ada tiket yang tiba-tiba kosong.  Setelah 5 hari berlalu, kejutan datang, ada satu tiket kosong untuk pulang. Langsung saja secepat kilat saya beli, meski tahu tanggalnya mundur satu hari dari yang direncanakan. Dari pada tidak bisa pulang kan, urusan nanti di Malang setelah dari Semeru mau ngapain? tak pikir keri ae…

Drama tiket kereta selesai, khawatir yang bikin bimbang galau merana, lenyap. sekarang tinggal memikirkan persiapan apa saja yang mesti di siapkan. Dari info PJ trip, bahwa mereka menyediakan perlengkapan mendaki (Tenda, alat masak). saya masih ragu, mempercayakan itu pada mereka atau membawa sendiri. Setelah menimbang-nimbang dan juga karena terbiasa membawa sendiri, akhirnya saya putuskan membawa sendiri semua perlengkapan mendaki, dari tenda, alat masak (trangia), matras, alat makan dll. Semua demi safety first yang selalu tertanam dalam diri dan nasihat sesepuh (lebay), bahwa berkegiatan outdoor apalagi mendaki tak seperti jalan-jalan wisata, tapi lebih dari itu, karena bahaya bisa saja terjadi nanti, tak ada yang tahu bukan?

Minggu sore, 14 Agustus 2016, matarmaja menanti di stasiun senen. Begitu pas jamnya sesuai jadwal pemberangkatan, seketika kereta meluncur. Saya mengintip dari jendela kereta, peron stasiun mulai menghilang. Saya bergumam, bye Jakarta, seminggu kita tak jumpa. Semoga saya kembali dengan selamat, amin.

Setelah berkisah tentang drama tiket, persiapan mendaki, ada hal yang menjadi masalah lagi. Ini di kereta enggak sejam dua jam, tapi bisa sampai 17 jam lamanya. Bisa dibayangkan, naik kereta sendiri tanpa teman apalagi jodoh yang menemani. Nasibmu nak, kalau sudah begini, nasi sudah jadi bubur, yo di rasakno ae, mudah-mudahan apa yang terjadi nanti selama perjalanan, adalah pengalaman yang menyenangkan, namun sepertinya itu hanya harapan. Saya lanjutkan ceritanya pada artikel “Mati Gaya di Kereta Matarmaja“.20150704_095144