Ranu Kumbolo Tentangmu

Jauh sebelum aku menemuimu

Nama dan parasmu telah ku tahu

Dari sanalah hasrat ini menggebu

Meronta pada rasa yang terus merajuk diriku

Mengajaku kesana di mana kamu berada

 

Waktu berlalu

Entah berapa hari telah berganti

Tahun-tahun berjalan lalu tanpa ku turuti hasrat ini

Hingga suatu ketika

Semua tak dapat lagi kureda

Meski tanpa kawan-kawan biasanya

Perjalanan temuimu kujalani sendiri saja

 

Masih ingat saat ku tatap gapura gunung tempat mu berada

Titik awal pendakian semeru kala senja hampir tiba

Aku tak gundah meski menapak jalan di tengah gelap

Pada jalan yang belum pernah ku injak sebelumnya

 

Tak butuh lama gelap menyergap

Beberapa saat setelah jalur ku tapak

Ku nikmati saja saat-saat jarak kita semakin dekat

Dari post ke post jalan ku terhenti

Menjaga tenaga agar tak musnah terkuras

Menurunkan tempo detak dan hela nafas

 

Setelah lima jam berlalu

Di tengah gelap dapat ku lihat wujudmu

Sayang memang di saat awal bertemu

Tak mampu ku tatap utuh dirimu

Malam sembunyikan wujud utuhmu dariku

Dalam lelah yang kurasa

Tak sabar diri ini turun mendekatimu

 

Aku tertegun sejenak

Saat jarak kita hanya tinggal beberapa tapak

Wajahmu kulihat berkilau disinari terang bulan

Ranu kumbolo yang tengah kupandang

Kulihat rembulan tengah tenggelam di wajahmu

Malam yang cemburu padamu

Telah gagal sembunyikanmu dariku

 

Di tengah kagum yang melenakanku

Dinginya angin gunung sadarkanku tuk cepat beranjak

Aku melangkah di tepian Ranu Kumbolo

Sesekali bercumbu dengan dingin airnya

Ingin rasanya merengkuh dirimu ke wajahku

Namun sekarang bukan waktu yang tepat tuk lakukan itu

Esok saat hari menghangat

Itulah saat dimana rindu kulepas penuh hasrat

 

Saat tiba di tempat tuk istirahat

Ku gelar tenda seorang diri di tengah gelap

Bersama rintik hujan yang mulai datang

Aku meski bergegas selesaikan tugas

Sebelum hujan benar-benar tiba basahi semuanya

Syukurku saat hujan membesar

Aku tengah terduduk dalam tenda

 

Dalam remang lampu dan bunyi hujan yang jatuh ke tendaku

Aku memikirkanmu yang berada tepat di sampingku

Aku tak menyangka kita kan lalui malam bersamamu

Berdampingan ditemani merdunya rintik hujan

Meski aku tidur sendiri malam ini

Tak ku risaukan karena dirimu ada si sisiku

Mari kita lalui malam ini dalam mimpi yang penuh arti

Dalam sunyi yang menentramkan hati yang lelah menanti

Yang menghasrat padamu sekian waktu berlalu

Dan malam ini adalah jawaban semua itu

 

Pagi menjelang saat ku buka tenda hari telah terang

Aku kesiangan terlelap nikmat bermalam di kediamanmu

Yang saat kupandang pagi itu

Persis di depan mataku Danau Ranu Kumbolo elok nian memikatku

Aku bergegas berjalan ke tepianmu

Tak sabar ingin rasakan segarnya air danaumu

 

Saat tengah ku basuh wajahku

Dingin menjalar bersama kesegaran yang membangunkanku

Dari sisa-sisa kantuk yang masih sedikit menggelayuti kelopak mataku

Kulayangkan pandang pada seluruh wujudmu

Dari airnya yang meriak lembut terterpa angin pegunungan yang segar

Kemudian pinus-pinus berjejer di salah satu sisimu

Beberapa merubuhkan batangnya berendam pada airmu

Sementara di sisi lainya bukit-bukit hijau savana sempurnakan indahmu

 

Aku tergoda pada batang pohon pinus yang rubuh

Ku duduki rendamkan kakiku kedalam airmu

Tak mau kalah pada pinus yang mendahuluiku

Lama aku nikmat dirimu

Meski hanya dengan merendamkan kaki dan membasuh wajahku

Tak cukup dengan itu aku teguk segarnya airmu

Entah berapa lama aku bertingkah seperti itu

Hingga seseorang datang buyarkan fantasiku

 

Aku sadar hari telah makin siang

Mesti bersiap tuk lanjutkan jalan memuncak semeru

Setelah cukup lama bersiap tuk lajutkan perjalanan

Aku mulai melangkah menanjak susuri tanjakan cinta

Yang katanya tak boleh menegok kebelakang saat melewatinya

Jika itu kamu lakukan pupuslah harapanmu

 

Tapi bagiku kala itu

Bodoh sekali jika tak ku tengok ke belakang

Bagaimana mungkin ku sia-siakan eloknya dirimu ranu kumbolo

Justru dari ujung tanjakan cintalah cintaku padamu menggelora

Kesempurnaan cantikmu mewujud di pelupuk mataku

Ingin kusudahi saja perjalanan ini gumamku

Agar puas ku pandang dirimu

Hingga rindu tak lagi berseru

Hingga kelak kenanganmu lekat dalam benaku

Menemaniku sepanjang hidupku

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Iklan

Penggila Mahameru

 

 

Tengah malam
Saat pergantian hari
Dingin itu berebut merasuk ke tubuhku
Seakan berlomba menguasaiku
Aku menggigil di tengah gelap
Di tengah padang rumput kalimati
Saat itu…
Langit terlihat lebih terang
Dari pada dunia yang ku pijak
Mengerlip gemintang hiasi mahameru di bawahnya
Yang gagah tegak tepat di hadapanku
Aku terkesiap
Benarkah malam ini aku kan mendakinya?
Jantungku berdegup lebih kencang
Berlomba dengan nafas gigilku kala itu

Seketika siaplah semua
Berkumpulah manusia-manusia dimabuk cinta
Pada mahameru puncaknya Semeru
Jika bukan cinta
Tuk apa mereka menggila disini
Susahkan diri yang bisa jadi hidup mereka diakhiri malam ini
Ah itu fikirku saja
Tapi yang pasti
Mereka punya alasan kuat sendiri

Benar saja
Cinta itu diuji
Penjaga pos tak ridhoi kami pergi
Penuhi janji cinta pada mahameru malam ini

Setelah bergumul kata dalam kebekuan raga
Riuhan manusia yang tengah diuji
Dalam kebimbangan dan keraguan
Melawan atau kalah dalam larangan
Singkat kata
Setengahnya mundur ke balik tenda
Setengahnya tak bergeming meski blacklist ancamanya

Satu jam yang penuh gumul
Antara gigil dan hembus nafas
Antara takut dan tetap teguh
Antara bimbang dan keyakinan
Antara ancaman dan keberanian
Mereka yang memenangkan dirinya
Seketika disatukan bersama
Dalam satu tujuan
Mahameru…

Nasa Kalimati Mahameru Semeru3

View Mahameru dari Kalimati

Langkah dimulai
Barisan manusia bebal memanjang
Dari cahaya headlamp terlihat bak mengular
Gambarkan jalan ini masih terjal dan panjang

Headlampku mati
Aku disergap gelap
Langkahku terhenti
Di bawah remang rembulan
Perlahan kakiku merayap
Di tengah gelap kawan pendaki menghampiri
Mau berbagi cahaya pada yang lemah ini
Syukurku
Paling tidak aku masih bisa maju
Meski dalam gontai dan lambatnya langkahku

Medan sebenarnya sudah dimulai
Kakiku menghujam ke dalam pasir hitam
Menggelayutiku
Menyeretku
Seakan cemburu padaku
Yang memilih mahameru
Dari pada dirimu
Tak rela aku mencapai
Tak sudi aku memuncaki
Mahameru…

Rombongan tercerai berai
Seakan masing-masing sibuk dengan dirinya
Bergulat di tengah lelah
Tertekan dalam mental yang goncang
Kuatkah?
Jika setiap melangkah
Selalu terseret turun kebawah
Sampai kapan?
Jalan tak usai
Tenaga lunglai
Aku terhuyung
Seakan semeru menggeliat
Aku terduduk dalam tunduk
Pandangi pasir yang samar dalam gelap
Sampai sini sajakah?
Berkali-kali suara itu berbisik…
Pandanganku melayang jauh
Pada hamparan Tengger Semeru yang samar-samar
Sudah sejauh ini
Haruskah terhenti?
Suara lain berbisik…
Pada hati yang tengah mengharap
Semoga raga ini kuat

Nasa Sunrise Mahameru Semeru

Sunrise 17 Agustus 2016 di Mahameru

Tiba-tiba
Langit dan bumi terpisah
Yang sebelumnya disatukan hitamnya malam
Sekarang merah memisahkan keduanya
Tak menunggu lama
Seketika cahaya terang menyembur dari baliknya
Oh sunrise pujaan
Telah muncul kamu sekarang
Maaf aku masih terduduk di jalur pendakian
Tak sambut dirimu di atas mahameru
Sang gagah tertinggi di tanah Jawi

Dalam pancaran surya
Yang lembut menghangat
Kuatkan raga dan kuatkan semangat
Seketika aku berdiri
Memulai langkah yang lama terhenti
Puncak jelas terlihat
Tak jauh lagi rupanya
Oh hati
Sabarlah menanti
Ragakan penuhi janji
Senangkanmu pada mahameru di atas nanti
Janji itu kan tertepati
Hari ini, bukan hari nanti

Nasa Mahameru Puncak Semeru

Hamparan Bromo Tengger Semeru

Tak butuh lama aku injakan kaki
Di tanah tertinggi jawa hari ini
Haru mengharu
Senang menyenangi
Bahagia yang membahagiakan
Angan menjelma jadi kenangan
Yang takkan lupa meski waktu tak senang
Inikah mahameru
Tanah datar di puncak semeru
Tempat para dewa katanya

Dalam bahagia yang tak terucap
Dalam pukau indahnya pandang
Hati itu berbisik dalam riangnya
Subuh terlewat…
Seketika ku jelma tanah dewa jadi tempat khidmat
Pada Tuhan sang pemberi nikmat
Sepetak tanah mahameru jadi sajadah
Tempat bersujud dalam syukur nikmat
Entah berapa rapal doa dan bait puji ku ucap
Yang takdirkanku hari ini
Berdiri di tempat yang tinggi ini
Oh Robbul izzati
Maaf jika aku kufur nikmat
Aku tak pandai bersyukur
Aku tak pandai memuji
Aku tak ahli mengibadahi
Maaf…
Dosa tak henti ku buat
Sedang nikmatmu tak henti ku kecap
Aku bermunajat
Maafkan aku… Tuhanku

Jakarta, Maret 2018
Dalam kenangan Semeru 17 Agustus 2016

Berikut kisah perjalananya tentang Semeru waktu itu:

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.