Mukadimah

Istimewa

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Bismillahirrahmanirrahim

Insyaalloh tahun 2018 aktif ngeblog lagi

img-20180111-wa0008-148973691.jpg

Photo diambil disalah satu sudut Stone Garden
Bulan April 2015 saat mengikuti Trip Backpacker Jakarta (BPJ).
Iklan

Bersama Cantigi, Edelweiss Menanti

Cantigi merona diterpa cahaya jingga
Semilir angin menggoyangkan dahanya
Sedangkan kabut menyelimuti sekelilingnya

Dari kejauhan sana
Edelweiss menatap dengan penuh kesima
Ingin rasanya ia merona juga

Tapi ia sadar
Bahwa dirinya punya pesona
Ia tahu betul semua pendaki selalu memujinya

Ia bersyukur
Diciptakan diatas gunung yang tinggi
Bersama Cantigi lalui hari
Dalam keterasingan menanti para pendaki

~NuN~ Papandayan, Januari 2014

Puisi Catatan Persaksian Bu Risma tentang Doli di Mata Najwa

 

Aku saksikan
Tuturan seorang manusia
Ada anak kecil bermodalkan uang jajanya
Katanya seribu dua ribu banyaknya
Aku kira untuk apa
Namun semua dugaan meledak Lantaran kaget mendengar berita

Tahukah kawan itu apa?
Pelacur tua memberikan kesaksianya
Pada wanita yang mulia hatinya
Yang bertanya siapa yang mau menggunakan jasanya

Tahukah kawan apa jawabnya?
Aku dan yang lainya tertegun cukup lama
Tak sabar menunggu jawabanya
Wanita yang berhati muliapun sama
Ia tegah mengumpulkan kekuatan tuk mengatakan persaksianya
Matanya hampir saja banjir dengan air mata
Tapi ia tahan sekuat tenaga

Anak SD…
Anak-anak yang jadi pelangganya
Jawaban itu meluncur perlahan dari mulutnya
Seakan ia enggan mengatakanya

Semua hening….
Aku hampir tak percaya dibuatnya
Seakan ini jawaban dusta sedusta-dustanya
Inginku bungkam mulut yang berbicara
Agar dunia tak tertipu dibuatnya

Tetapi…
Aku sadar, Inilah realita
Seperti inilah adanya kehidupan kita
Kita semua tertipu dengan indahnya karya dunia
Namun dibaliknya
Generasi Bangsa tengah bergelimang neraka
Anak bangsa tengah dicandu dengan apa yang mereka kira surga
Mereka ditipu nikmat yang mereka tak tahu itu apa

Aku
kamu
Mereka
Salah siapakah?

Kebingunganku menghentikan jemariku
Menahanku tuk lanjutkan tulisanku
….

Bu Risma.jpg

Dikuti dari riwarat facebook saya pada tanggal 13 Februari 2014.

Tulisan ini dibuat sesaat setelah menonton Mata Najwa (12/02/2014) saat mewawancarai bu risma tentang rencana menutup lokalisasi doli.

Berikut salah satu text dialog antara Najwa dengan Bu Risma:

Najwa = Bu Risma, salah satu kebijakan anda yang kini menjadi begitu kontroversi karena banyak yang protes, dan yang protes bukan hanya mereka yang kena dampaknya langsung, tetapi orang yang melihat bahwa menutup lokalisasi itu bukan hanya menyelesaikan masalah, namun malah menambah masalah baru ibu?

Bu Risma = Ya awalnya saya juga berfikir gitu, jadi itu adalah awal perjalanan panjang saya, kemudian saya menetapkan hal itu.

Pada awal-awal saya menjabat walikota, saya didatangi 20 orang Kiyai. Nah kemudian saya sampaikan saat itu “Pak Kiyai, saya belum bisa memberikan makan semua orang itu.”. Kemudian mereka bilang “Bagaimana bu wali?”. Kemudian saya bilang; “Mereka kan harus memberikan makan kepada keluarganya.”.

Disitu kemudian media sempet menulis, saya masih punya dokumennya, “Gubernur Setuju Menutup Tempat Lokalisasi, Walikota Menolak”. Saya masih punya itu dokumen itu.

Kemudian dari sana itu, sekali lagi, saya mungkin mengikuti hati saya. Itu saya ditunjukan oleh Tuhan. Pertama awalnya kasus trafficking anak. Pertama satu kasus, saya telusuri, tidak mungkin sesuatu terjadi pada anak itu kalau dia tidak punya background, apa latar belakang dia? Latar belakangnya bisa dari sekolah, bisa dari pergaulan atau dari keluarga. Itu saya telusuri betul!

Nah kemudian saya cek keluarganya, kenapa awalnya, saya ketemu dia dulu “Kenapa begini-begini…?”. Kemudian saya telusuri keluarganya, kemudian saya telusuri sekolahnya, kemudian saya telusuri lingkungannya. Nah kemudian saya menemukan kasus-kasus berikutnya.

Kemudian ternyata 90% anak-anak itu punya hubungan dengan kawasan-kawasan seperti ini. Entah dia anak dari situ, orang tua disitu, entah dia pernah tinggal disitu, kemudian entah mereka masih tinggal disitu.

Nah, dari situ kemudian saya turun ke sekolah, saya ngajar mbak di sekolahan-sekolahan itu. Jadi saya punya catatan-catatan, Ooo…. anak ini punya disitu, sekolahnya disitu, saya turun ke sekolahan itu. Supaya itu tidak terpengaruh ke anak-anak yang lain.

Najwa = Apa yang anda temukan di sekolahan itu?

Bu Risma = Nah, dari situ saya bisa melihat awalnya, oke yang paling berat itu yang paling dekat dengan kawasan lokalisasi paling terkenal di Surabaya.

Najwa = Dolly?

Bu Risma = Iya…. 1 jam, biasanya anak-anak itu setelah saya ajak ngomong, anak itu nangis mbak…, ngeluh…, sampai mereka mau curhat ke saya itu antri, kadang sampe 10 orang. Mereka curhat kepada saya, cerita tentang keluarganya, masalahnya, tentang apapun pergaulannya, mereka cerita ke saya.

Saya bawa Psikologi kalau ke sekolah itu minimal 5 orang. Nah kemudian anak-anak saya tampung, saya peluk, setelah itu saya kumpulkan, saya selalu minta ruangan, lalu mereka ditangani Psikolog.

Nah, ada 1 tempat yang di kawasan itu tadi. Saya satu jam itu orang kaya…. kaya kosong sama sekali anak-anak itu. Satu jam mereka tidak tersentuh omongan saya…. Dua jam saya hampir frustasi… “Ya Tuhan apa ini yang terjadi?”. Begitu saya ngomong pingsan itu satu anak “Plek”, pingsan lagi “Plek, Plek, plek-plek” pingsan, sampe 20 anak pingsan!

Sampai saya panggil dokter lah, karena pingsan saya juga takut kan….

Najwa = *Najwa melihat miris*

Bu Risma = Saya bawa ke ruangan…. Aduh ceritanya….. Rasanya saya waktu itu sudah mau nyerah. Cerita itu, sudah selesai

Najwa = Apa ibu ceritanya sampe Ibu Risma yang sebegini keras bisa sampe menyerah itu mendengarkan apa? *tanya Najwa merinding*

Bu Risma = *tersenyum miris* *hening*

saya tidak tega ngomongnya

*ibu resmi tersedu sambil mengusap mata*

tidak tega saya *sambil terisak*

Najwa = Kaitannya dengan prostitusi yang mereka dipaksa? Atau kaitannya dengan keluarga?

Bu Risma = Ya dua-duanya *sambil terisak, kemudian hening*

Najwa = Ibu tidak pernah mendengar *langsung dipotong ibu Risma*

Bu Risma = Mereka masih SMP-SMA *sambil terisak dan menutup mata*

*Hening beberapa detik, Ibu Risma melihat keatas dengan mata terkaca-kaca*

Najwa = Itu yang kemudian membuat ibu mengubah sikap dari semula *dipotong Ibu Risma*

Bu Risma = Ndak, ndak juga. Setelah itu saya kumpulkan….. mucikari-mucikari dan PSK dirumah saya di Bulan Puasa. Saya biasanya bulan puasa saya buka puasa di tempat warga gitu….

Tapi kali itu saya undang mereka….

Dan pada waktu pertama kali saya ketemu mereka….

Ada 1 orang sudah tua, saya juga kaget, sudah tua kok masih jadi PSK gitu, dia ngomong “Sebenarnya saya ingin berubah, tapi janji pemerintah bohong, katanya saya mau diberi ini-ini, tapi ternyata bohong semua.”; ”Baik bu, saya besok akan datang ke tempat ibu.”

Besoknya saya kesana, pagi-pagi sekali jam 7 sya datang kesana. Dia tinggal di tepi rel, rumahnya kurang lebih 2×2, dari bangunan sesek begitu…..

Terus saya tanya “ibu kenapa?”. “Ini saya punya usaha utang dari rentenir.”; “Berapa utangnya ibu? Saya akan bayar.”. Terus habis itu dia cerita lagi “Bu saya ingin ini”. “Oke saya akan bantu” *sambil mengusap air mata*

Terus sudah selesai saya ajak dia masuk ke dalam, “Saya ingin ngobrol dengan ibu sendiri”

saya masuk ke dalam kamarnya, ruangannya itu separo untuk jualan, jadi 2×2 itu separonya untuk dia tidur.

Saya tanya ke dia “Ibu maaf ya bu kalau ibu tersinggung, saya juga ingin tahu, saya mohon maaf sekali kalau ibu tersinggung, dan mohon maaf sekali kalau saya salah.”…..

Nah terus saya tanya disitu “Bu…. ibu sekian tahun, ibu umur berapa jadi PSK?”

Dia sampaikan 19 tahun……..

“Ibu sekian tahun jadi PSK, kenapa ibu nggak bisa nabung? Kenapa saat ibu sudah selesai”, itu ibu itu kurang lebih usianya 60 tahun

Najwa = 60 tahun masih jadi PSK itu? Usia 60 tahun *kaget*

Bu Risma = Iya *menjawab miris*

Kemudian dia sampaikan bahwa dia selama ini uang yang dia pakai habis untuk beli baju, habis untuk beli make up… kemudian yaa… seperti itu….. Hingga sehingga dia tua dia tidak punya anak.

Kemudian saya tanya lagi itu “Bu, mohon maaf ya, sekali lagi saya mohon maaf kalau saya salah…. ibu sudah sepuh begini…. terus siapa pelanggannya?” *kemudian hening*

Itu kemudian yang membuat saya tergerak, mungkin itu Tuhan yang membukakan saya begitu….

Najwa = Siapa bu pelanggan PSK berusia 60 tahun?

Bu Risma = Anak SD, SMP

Najwa = Anak SD? *najwa kaget*

Bu Risma = Karena dia punya uangnya seribu, duaribu dia terima uangnya

Najwa = Pelanggan PSK anak SD ibu? Itu yang ibu dapatkan? *Tanya Najwa heran, shock*

Bu Risma = *hening lama banget* *ibu Risma speechless*

Najwa = Apa yang kemudian……. *speechless juga* ibu lakukan setelah ibu mendengar pengakuan itu?

Bu Risma = Ya saya kumpulkan kepala dinas, saya pamit ke keluarga saya….

Kalau saya mati…… menangani ini, tolong di ikhlaskan…….. tidak boleh ada keluarga saya nuntut atas kematian saya

Kutipan ini saya ambil dari link  beriket
https://m.kaskus.co.id/thread/52fc693c5ccb179008000058/ini-teks-dialog-ibu-risma-dan-najwa-tentang-penutupan-lokalisasi-dan-alasannya/

Hari Pers Nasional dan Kisah Heroik di Belakangnya

PWI

Kala itu, disebuah balai pertemuan Sono Suko di Surakarta (Solo). Terkumpulah toko-tokoh wartawan-wartawan diantaranya para pemimpin surat kabar. Sebut saja, Harian Rakyat Jakarta, Harian Merdeka, Antara, Suara Rakyat, Suara Merdeka, Penghela Rakyat, Surat Kabar Berjuang, Surat Kabar Kedaulatan Rakyat. Tak hanya para wartawan, para pejuang pun ikut berkumpul disana. Hal ini dapat dimaklumi karena pada waktu itu pers adalah termasuk ujung tombak perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam menginformasikan dan menyuarakan perjuangan kemerdekaan Indonesia ke seluruh pelosok Nusantara dan juga dunia.

Balai pertemuan Sono Suko menjadi tempat bersejarah bagi insan Pers di Indonesia. Bagaimana tidak, ditempat itulah pertemuan besar yang akan menjadi cikal bakal berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Momment itu bertepatan dengan tanggal 09 Februari 1946.

PWI Pusat

Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Berada di Jl. Veteran

Dipertemuan itu, disepakati berdirinya sebuah organisasi wartawan Indonesia, yang kemudian diberi nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), kemudian terpilihlah Mr. Sumanang Surjowinoto sebagai pemimpinya dan Sudarjo Tjokrosisworo sebagai Sekeretarisnya.

Selain itu, disepakatinya berdiri sebuah komisi yang beranggotakan 10 Orang, yaitu:

  1. Sjamsudin Sultan Makmur (Jakarta)
  2. B. M. Diah (Jakarta)
  3. Abdul Rachmat Nasution (Jakarta)
  4. Ronggodanukusumo (Mojokerto)
  5. Muhammad Kurdie (Tasikmalaya)
  6. Bambang Suprapto (Magelang)
  7. Sudjono (Malang)
  8. Suprijo Djojosupadmo (Yogyakarta)

Kemudian ditambah 2 orang lagi yaitu ketua dan sekretaris PWI terpilih. Kemudian Komisi yang beranggotakan 10 orang tersebut diberi nama komisi Usaha.

Tugas utama komisi usaha adalah mengkoordinasikan seluruh pers nasional untuk bergerak dalam satu barisan, yaitu dengan tujuan:

  • Menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Belanda
  • Mengobarkan nyala revolusi
  • Mengobori semangat perlawanan seluruh rakyat Indonesia terhadap bahaya penjajah
  • Menempa persatuan nasional

Kesemuanya untuk keabadian kemerdekaan bangsa dan penegakan kedaulatan rakyat.

Kemudian pada tahun 1978, dalam kongres PWI ke-28 di Kota Padang, Sumatera Barat. Kongres memutuskan untuk menetapkan adanya Hari Pers Nasional (HPN), penetapan ini selaras dengan kehendak masyarakat pers untuk menetapkan satu hari bersejarah, untuk memperingati peran dan keberadaan pers secara nasional.

Logo Dewan Pers

Pada sidang Dewan Pers yang ke-21, tanggal 19 Februari 1981 di Bandung, kehendak tersebut yang menjadi keputusan kongres PWI ke 28 disetujui oleh Dewan Pers, untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah sekaligus menetapkan penyelenggaraan Hari Pers Nasional.

Dari sekian panjang peristiwa tersebut, akhirnya pada tanggal 23 Januari 1985, Presiden Soeharto mengeluarkan keputusan untuk menetapkan Hari Pers Nasional (HPN), HPN ditetapkan pada tanggal 9 Februari. Keputusan tersebut tertuang pada KEPRES no. 05 tahun 1985.

Berdasarkan sejarah yang saya ulas diatas, praktis bangsa Indonesia sejak tahun 1985 telah merayakan HPN setiap tahunya, hingga hari ini 09 Februari 2018. Peristiwa perayaan tahunan HPN ini telah berlangsung selama 33 tahun, dan tulisan ini saya dedikasikan untuk ikut berkontribusi pada perayaan HPN ini.

Sengaja saja mengawali tulisan ini dengan mengungkap sedikit sejarah yang melatar belakangi HPN ini, semua itu agar kita yang mengetahui bahwa hari ini adalah hari pers, tidak hanya tahu saja, tetapi bisa sedikit meresapi kejadian dan semangat yang dahulu menggelora pada dada insan pers Indonesia.

Dalam menulis tulisan ini, saya teringat dengan kisah serorang pejuang pers, dia adalah Jusuf Ranadipuro. Jusuf dahulu bekerja disebuah radio militer milik Jepang di jakarta, yaitu radio Hoso Kyoku. Dari dialah, berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tersiar keseluruh Indonesia dan Dunia.

Jusuf

Foto Jusuf Ranadipuro

Cerita itu berawal pada sore hari, beberapa jam setelah Presiden Soekarno membacakan text proklamasi. Tepatnya pada jam 5 sore, datanglah syahrudin (wartawan domei) membawa pesan dar Adam Malik yang berbunyi “Harap berita terlampir disiarkan”. Bisa kita tebak, bahwa lampiranya adalah naskah proklamasi.

Singkat cerita, dengan strategi yang sudah disusun bersama rekan kerjanya, salah satunya yaitu Bachtiar lubis (kakak kandung Mochtar Lubis), pada pukul 19:00, Jusuf mengudara dari ruang siaran luar negeri, membacakan Teks Proklamasi seperti yang dibacakan oleh Presiden Soekarno. Dalam secepat gelombang radio, merampat susuri kontur-kontur bumi, terdengarlah berita kemerdekaan Indonesia oleh rakyat Indonesia disegala penjuru Nusantara. Tak hanya itu, bahkan dari siaran Jusuf inilah dunia tahu bahwa Indonesia telah merdeka.

Yang namanya perjuangan pasti tak mudah, mesti ada yang harus dikorbankan. 15 menit setelah mengudara, aksi Jusuf ketahuan tentara Jepang yang berjaga. Dipukuli lah para pejuang pers tersebut, bahkan Jusuf hampir kehilangan kepalanya yang hampir saja ditebas samurai. Puji Syukur, Jusuf selamat, mesti harus pulang dengan cacat di kakinya.

Singkat cerita, keesokan harinya berobatlah Jusuf ke Salemba, disana ia bertemu dengan dokter Abdurahman Saleh. Dari pertemuan itulah cikal bakal Radio Republik Indonesia berdiri (RRI). Untuk lebih jelasnya silahkan baca kisah berdirinya RRI, googling saja, insyaalloh banyak referensinya.

Jujur saja, menulis kisah peritiwa diatas membuat bulu kuduk di punggung saya berdiri, berkali-kali. Seakan bergetar merasakan begitu heroiknya para pejuang pers dahulu dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saya kira, adalah tak ada artinya tulisan saya ini jika didedikasikan untuk perayaan HPN hari ini. Tapi, saya yang kecil ini, dan memang benar-benar kecil, yaitu badanya hehe… Berharap dari yang kecil ini, dari tulisan ini, bisa meneruskan sedikit semangat perjuangan kala itu, hingga pada suatu rongga, di dada seorang manusia, semangat kecil ini meletupkan Gelora Semangat yang besar, yang bisa membuat bangsa ini lebih baik. Entah itu dari insan pers itu sendiri maupun yang bukan insan pers, amiin.

Dewan Pers

Gedung Dewan Pers di Jl. Kebon Sirih

Sekian kiranya tulisan ini saya tulis. Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional, semoga pers di Indonesia menjadi lebih baik lagi, tak menyimpang dari visi dan semangat para pendahulu mereka, berjuang demi negara bukan demi mereka. Berjuang demi kebenarin bukan membenarkan kebatilan, Amiin ya robbal’alamin.

Ikan Mas diantara Cinta dan Benci

Ada cinta menetes dari balik benci
Kemudian jatuh keatas telaga
Mencipta gelombang kecil di permukaanya

Dari dalam telaga
Seekor Ikan Mas tergoda
Apa gerangan yang jatuh disana
Yang membuat air beriak seakan memanggilnya
Ah mungkin itu makanan pikirnya

Namun tak ada apa-apa yang dilihatnya
Kemudia ia mengintip dari balik telaga
Ia terkesima
Ada awan hitam menggantung persis diatasnya

Tes…jatuh sekali lagi
Cinta menetes seperti sebelumnya
Namun kali ini tak ada riak gelombang tercipta
Karena tetesanya jatuh tepat diatas kepalanya

Ikan Mas terpana
Ia heran dengan apa yang tengah ia rasa
Pada sensasi tetesan yang jatuh mengenai kepalanya
Perasaan sukanya tumbuh

Ia merasa…
Tetesan itu lebih segar dari telaganya
Lebih jernih dari telaganya
Lebih sejuk dari telaganya
Telaga yang selama ini ia hidup disana
Oh andai telaga ini … Gumamnya

Ia masih disana
Menati tetesan ketiga jatuh lagi
Ia menanti
Namun tak adalagi
Tak ada tetesan yang tercipta lagi

Ia amati apa yang terjadi
Ternyata awan hitam telah pergi
Hanya tersisa langit biru putih bergradasi

Seketika ia benci
Pada langit biru yang selama ini ia curi-curi memandangi
Setiap pagi dari permukaan telaga ia menikmati

Seketika ia benci
Pada apa yang ia suka selama ini
Seketika saja…
Padahal…
Hanya setetes…
Itupun dari awan hitam yang tak terlihat suci

Kini, Setiap pagi ia tak ada lagi
Telaga itu telah sunyi
Tak tampak Ikan Mas dipermukaan lagi
Tak lagi tertarik menikmati langit yang selama ini ia cintai
Telaga itu telah sunyi

Mungkin Ikan Mas itu telah pergi
Telah terbaring diatas panci
Terpancing karena mengira tetesan itu datang lagi

Jakarta (Busway), 6 Februari 2018

Kawasen Antara Sultan Agung, Dipati Ukur dan Tumenggung Sutannangga

Sekilas Tentang Kampung Halaman (Bantar Sari-Bantar Dawa)

Sejak awal saya suka dengan sejarah, apalagi sejarah tanah leluhur sendiri. Selama ini saya lebih banyak membaca sejarah kerajaan-kerajaan di tanah jawa (Sunda dan Jawa). Namun beberapa tahun terakhir mulai penasaran dengan sejarah yang menaungi kampung saya di Ciamis, tepatnya di kec. Purwadadi. Kec. Purwadadi sebelumnya termasuk wilayah kec. Lakbok, pada tahun 2001 M terjadi pemekaran yang mengakibatkan pecahnya wilayah Lakbok menjadi dua yaitu kec. Lakbok dan kec. Purwadadi.

Peta Ciamis Lakbok

Area Hijau Terang adalah wilayah Kecamatan Lakbok sebelum pemekaran 2001.
Yang dilingkari Merah adalah kampung saya :)

Dua tahun lalu, 2016 M. Saya pulang kampung untuk merayakan Lebaran bersama saudara di kampung. Singkat cerita, saya yang suka berbincang-bincang (ndopok, bahasa dikampung) dengan orang tua disana yang tak lain adalah paman sendiri. Seperti biasa saya suka bertanya tentang asal-usul keluarga, meskipun sudah berkali-kali mendengar ceritanya, selalu antusis mendengarnya.

Namun arah cerita tiba-tiba beralih ke asal-usul kampung saya. Yang katanya dahulu kampung saya (Bantar Sari) desa Bantar Dawa adalah kampung pindahan dari kampung bojong gintung. Pada tahun 1980an terjadi banjir bandang, Bojong Gintung yang persis berada di pinggir kali Ciseel terkena imbasnya.

Kampung Bojong Gintung

Keterangan:
Merah = Bojong Gintung; Kuning = Bantar Sari; Biru = Cipining; Hijau = Tanggul; Putih = Kali Ciseel

Setelah banjir bandang tersebut yang menenggelamkan perkampungan, warga memutuskan untuk pindah kampung, kampung bojong gintung ditinggalkan oleh warganya yang pindah. Perpindahan warga kampung Bojong Gintung menciptakan 2 kampung baru yaitu kampung Bantar Sari (selatan kali Ciseel) dan kampung Cipining (Utara kali ciseel).

Sekarang sepanjang bantaran kali ciseel, disebelah kanan dan kirinya  dibentengi oleh tanggul tanah setinggi 3-4 meter. Tanggul-tanggul tanah seperti ini banyak dijumpai di kawasan kec. Lakbok dan Kec Purwadadi. Karena banyak kali-kali yang melintasi kawasan ini (Citanduy, Ciseel, Ciputra Haji dll). Kali-kali tersebut pasti akan meluap atau meluber hingga ke bantaran dikanan dan kirinya.

Kawasen

Kembali lagi ke cerita asal-usul kampung. Selain kisah Bojong Gintung yang tinggal kenangan, jika dilihat sekarang sudah menjelma seperti kebun yang mirip hutan produksi. Hanya tersisa bekas-bekas pondasi rumah yang tertutup rerumputan yang cukup tinggi.

Ternyata daerah saya yaitu kecamatan Lakbok atau Kecamatan Purwadadi, sekarang. Dahulunya termasuk kedalam wilayah yang bernama kawasen (Banjar Sari). Tak banyak yang diceritakan tentang Kawasen oleh Paman saya, yang bisa ia tuturkan hanya itu saja.

dipatiukur-warga banjarsari

Karena penasaran dengan Kawasen, nama yang masih asing oleh telinga saya, maka saya mencoba mencari tahu dari sumber-sumber yang bisa saya temukan. Dari yang awalnya sekedar ingin tahu, mondar-mandir dari link-link artikel ng disajikan Google. Akhirnya saat mau menulis catatan inilah pencarian tentang Kawasen menemui titik seriusnya.

Berikut singkat ceritanya tentang informasi Kawasen yang saya bisa dapatkan.

Sejarah Kawasen

Pada masa Sultan Agung memimpin Mataram, terjadilah pemberontakan di wilayah Periangan Timur (Galuh) yang dimpimpin oleh Dipati Ukur (1628-1632 M). Menyikapi hal itu, Sultan Agung meminta Cirebon untuk menangkap Dipati Ukur, Kemudian diutuslah Bagus Sutapura (anak pepimpin kawasen) untuk menangkap Dipati Ukur. Singkat cerita, Bagus Sutapura berhasil menangkap Dipati Ukur.

Akibat pemberontakan Dipati Ukur, dalam Piagam Sultan Agung bertanggal 9 Muharam tahun Alip (menurut F. de Haan, tahun Alip sama dengan tahun 1641 M, tetapi ada beberapa keterangan lain yang menyebutkan bahwa tahun Alip identik dengan tahun 1633), daerah Priangan di luar Galuh dibagi lagi menjadi empat kabupaten:

  • Sumedang (Rangga Gempol II, sekaligus Wedana Bupati Priangan),
  • Sukapura (Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, bergelar Tumenggung Wiradadaha),
  • Bandung (Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, bergelar Tumenggung Wiraangun-angun),
  • Parakan Muncang (Ki Somahita Umbul Sindangkasih, bergelar Tumenggung Tanubaya).

Wilayah Priangan kemudian dimekarkan dengan diubahnya Karawang menjadi kabupaten mandiri, sedangkan wilayah Galuh (Priangan Timur) dibagi empat kabupaten:

  • Utama
  • Bojonglopang (Kertabumi)
  • Imbanagara
  • Kawasen

Kabupaten atau Kadipaten Kawasen kemudian dipimpin oleh Adipati Bagus Sutapura. Kemudian Kadipaten Kawasen berubah menjadi Kedaleman Kawasen, Adipati Bagus Sutapura diangkat menjadi Tumenggung dengan gelar Sutannangga.

Tak banyak informasi yang didapat mengenai sejarah Kedaleman Kawasen ini. Bahkan proses perubahan dari kadipaten menjadi kedalemanpun masih belum jelas akar dan latar belakangnya.

Pada tahun 1810 M, Kedaleman Kawasen dibubarkan oleh Gubernur Jendral Herman Willem Deandels (1808-1811 M). Deandles merupakan Gubernur ke 4 Hindia Belanda atau Gubernur ke 36 jika dihitung sejak masa VOC (1610-1799 M).

Masa Penjajahan (VOC dan Hindia Belanda)

Pada tahun 1705 M terjadi perjanjian antara VOC dengan Mataram, salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah menyerahkan wilayah kerajaan Cirebon ke VOC. Praktis sejak tahun 1705 M sampai masa pemerintahan Hindia Belanda (1800 M), kawasen berada dibawah kekuasaan VOC.

cheribon-west-java-1730-e1296664690179

Peta Wilayah kekuasaan Cirebon pada masa VOC

Pada tahun 1800 M berdirilah Hindia Belanda menggantikan VOC yang telah dinasionalisasi. Kemudian tahun 1808 M dibuatlah karesidenan Parahyangan yang meliputi wilayah Cianjur, Bandung, Sumedang, Limbangan dan Sukapura. Kemudian Galuh dimasukan ke karesidenan Parahyangan pada awal abad 19.

Pada masa itu, kawasen belum masuk ke kabupaten Galuh (Ciamis), tetapi masuk ke kabupaten Sukapura yang kemudian berganti nama menjadi Tasikmalaya pada tahun 1913 M).

kabupaten-maja-hinderstein-1842

Kemudian pada tahun 1935 M (kurang lebih), Kawasen dan sekitarnya masuk kedalam Kabupaten Galuh yang pada masa kepemimpinan Raden Tumenggung Aria Sastrawinata (1914-1935 M) Galuh dirubah menjadi Ciamis.

Hal tersebut dapat dilihat di Babad Lakbok yang mengisyaratkan wilayah tersebut (Lakbok) dibuka wilayahnya menjadi pertanian dan pemukiman penduduk oleh Bupati Sukapura yaitu R.A.A. Wiratuningrat. Wilayah Lakbok sebelum dibuka (dibabat) pada tahun 1925 M adalah kawasan hutan dan rawa-rawa.

Pembukaan lahan baru inilah yang mendorong banyaknya orang jawa pindah ke Lakbok, termasuk keluarga saya.

Pindah dari Purbalingga ke Lakbok

Pindahan dari Purbalingga menuju Lakbok, Ciamis.

Setelah menulis artikel ini, rasa penasaran terhadap Babad Lakbok yang mengisahkan pembabatan Hutan dan Rawa-Rawa di lakbok pun tumbuh. Ditambah dengan informasi dari peneliti bahwa daerah Lakbok merupakan areal lahan Gambut terakhir yang masih ada di pulau Jawa.